Mengapa harus di kota santri?
Mentari mulai kembali tersenyum, memancarkan
sinarnya melalui ventilasi yang dibuka setiap pagi. Aroma dingin mulai
menyelinap, membuatku semakin enggan membuka mata, hati ini semakin tak sanggup
melangkah. Andai saja gemericik air tidak mengharuskanku menyentuhnya.
Sungguh, aku sangat ingin mengibaskan selimut pagi ini. Aku benar-benar bosan menikmati hiruk-pikuk kehidupan kota santri. Tetap saja, Ibu dan Ayahlah yang selalu menjadi motivator terbesar hingga membuatku tetap berada dalam ruang lingkup yang mungkin dianggap telalu kolot untuk sebagian orang.
Sungguh, aku sangat ingin mengibaskan selimut pagi ini. Aku benar-benar bosan menikmati hiruk-pikuk kehidupan kota santri. Tetap saja, Ibu dan Ayahlah yang selalu menjadi motivator terbesar hingga membuatku tetap berada dalam ruang lingkup yang mungkin dianggap telalu kolot untuk sebagian orang.
Ah, aku terlalu enggan mendeskripsikan suasana saat
ini. Entah apa yang seharusnya aku rasakan. Bahagia? Ataukah sebaliknya?
Singkat cerita. Suatu pagi saat semua anak seusiaku bersemangat melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi aku malah tidak memiliki gairah, bahkan
untuk membuka kelopak mata sekalipun. Entah apa penyebabnya. Aku merasa bahwa
keputusan ini sangat tidak sesuai dengan apa yang telah direncenakan
sebelumnya. Ya, aku sangat ingin terlepas dari ‘Kota Santri’. Tapi apalah daya,
ini kehendakNya yang tak bisa aku tandingi walau aku begitu menginginkannya.
Aku begitu frustasi hingga ada saat dimana siklus menstruasiku begitu
kacau. Aku mencoba berbicara, tapi dengan bahasa apa aku mengungkapkannya? aku
begitu takut. Takut tak mampu menghadapi perubahan sikap ayah yang begitu
bijak, aku takut tak mampu menahan rasa sesak ini hingga aku harus meneteskan
air mata di hadapan mereka. Saat itu, yang bisa aku lakukan hanyalah berdo’a
bahwa inilah keputusan terbaik yang membawaku
harus tumbuh dan berkembang di Ranah Damai ini.
Disini, setelah aku mencoba memaksakan diri
dengan semua yang terjadi. Aku mengenal banyak cinta. Cinta diantara aku dan
mereka, cinta diantara kita dan seluruh Asatidz/asatidzah yang memberi kami
banyak pelajaran: Belajar bersyukur walau kadang hati ini begitu enggan.
Belajar bersabar ketika masalah menghampiri. Belajar bagaimana seharusnya
seorang muslimah bertutur kata. Ya, cinta mereka teramat besar kepada kami
hingga lisan ini tak mampu menjelaskan.
Aku begitu bersyukur dan menikmati masa-masa
ini hingga aku lupa, bahwa satu tahun telah kita lewati bersama. Menangis karna
kami harus berbagi sate, berbagi tempe dan tahu toge. Tertawa karna seorang
teman tak henti-hentinya membuat ulah. Bergembira karna menu sore ini adalah
ayam goreng. Merasa jengkel karna kami kehilangan sendal saat menghadiri
kegiatan di gedung serbaguna. Dan akhirnya, aku begitu bahagia hingga aku tak
akan mampu menghapus semua kenangan bersama mereka di kampus biru ini, aku
begitu bersyukur dan semakin yakin kepada sang khalik, Sesuatu yang buruk
menurut kita tidak selamanya itu buruk dan segala sesuatu yang baik menurut kita
belum tentu itu yang terbaik. Maka, tak selamanya kita harus menjadi yang
terbaik. Melakukan yang terbaik adalah kuncinya. Yakin dan sabar. Karna Allah,
tak akan pernah datang terlambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar