Laman

Kamis, 02 Oktober 2014

Mengapa harus di kota santri?



Mengapa harus di kota santri?



Mentari mulai kembali tersenyum, memancarkan sinarnya melalui ventilasi yang dibuka setiap pagi. Aroma dingin mulai menyelinap, membuatku semakin enggan membuka mata, hati ini semakin tak sanggup melangkah. Andai saja gemericik air tidak mengharuskanku menyentuhnya.
Sungguh, aku sangat ingin mengibaskan selimut pagi ini. Aku benar-benar bosan menikmati hiruk-pikuk kehidupan kota santri. Tetap saja, Ibu dan Ayahlah yang selalu menjadi motivator terbesar hingga membuatku tetap berada dalam ruang lingkup yang mungkin dianggap telalu kolot untuk sebagian orang. 

Ah, aku terlalu enggan mendeskripsikan suasana saat ini. Entah apa yang seharusnya aku rasakan. Bahagia? Ataukah sebaliknya? Singkat cerita. Suatu pagi saat semua anak seusiaku bersemangat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi aku malah tidak memiliki gairah, bahkan untuk membuka kelopak mata sekalipun. Entah apa penyebabnya. Aku merasa bahwa keputusan ini sangat tidak sesuai dengan apa yang telah direncenakan sebelumnya. Ya, aku sangat ingin terlepas dari ‘Kota Santri’. Tapi apalah daya, ini kehendakNya yang tak bisa aku tandingi walau aku begitu menginginkannya. Aku begitu frustasi hingga ada saat dimana siklus menstruasiku begitu kacau. Aku mencoba berbicara, tapi dengan bahasa apa aku mengungkapkannya? aku begitu takut. Takut tak mampu menghadapi perubahan sikap ayah yang begitu bijak, aku takut tak mampu menahan rasa sesak ini hingga aku harus meneteskan air mata di hadapan mereka. Saat itu, yang bisa aku lakukan hanyalah berdo’a bahwa inilah keputusan terbaik yang membawaku  harus tumbuh dan berkembang di Ranah Damai ini.

Disini, setelah aku mencoba memaksakan diri dengan semua yang terjadi. Aku mengenal banyak cinta. Cinta diantara aku dan mereka, cinta diantara kita dan seluruh Asatidz/asatidzah yang memberi kami banyak pelajaran: Belajar bersyukur walau kadang hati ini begitu enggan. Belajar bersabar ketika masalah menghampiri. Belajar bagaimana seharusnya seorang muslimah bertutur kata. Ya, cinta mereka teramat besar kepada kami hingga lisan ini tak mampu menjelaskan.

 Aku begitu bersyukur dan menikmati masa-masa ini hingga aku lupa, bahwa satu tahun telah kita lewati bersama. Menangis karna kami harus berbagi sate, berbagi tempe dan tahu toge. Tertawa karna seorang teman tak henti-hentinya membuat ulah. Bergembira karna menu sore ini adalah ayam goreng. Merasa jengkel karna kami kehilangan sendal saat menghadiri kegiatan di gedung serbaguna. Dan akhirnya, aku begitu bahagia hingga aku tak akan mampu menghapus semua kenangan bersama mereka di kampus biru ini, aku begitu bersyukur dan semakin yakin kepada sang khalik, Sesuatu yang buruk menurut kita tidak selamanya itu buruk dan segala sesuatu yang baik menurut kita belum tentu itu yang terbaik. Maka, tak selamanya kita harus menjadi yang terbaik. Melakukan yang terbaik adalah kuncinya. Yakin dan sabar. Karna Allah, tak akan pernah datang terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar